MARET MERINDUKAN DESAKU
Bersantai di pelataran kota tak sama seperti duduk bersama rumput kampung halamanku
Daun hijau memanjakan mata
Awan teduh menyelimuti tubuh yang renta
Desir angin menyejukkan jiwa yang anta beranta
Bersantai di atas gedung tak sama dengan duduk bersama gubuk-gubuk persawahan
Di sini hanya ada ratusan kotak tinggi dengan ribuan kuda besi
Maret melambaikan tangan seraya menyapa di awal pertemuan
Merindukan jati diri yang hilang di tengah perkotaan
Menatap awan di desaku ibarat melayang bersama burung-burung yang terbang
Kemudian mendarat perlahan di atas permadani hijau sawah nan masyhur
Detik demi detik berlalu lalang setiap hari, saat ini aku masih di sini
Di tengah kotak yang menjulang tinggi menusuk cakrawala
Di antara kotak yang hingar bingar menyesakkan langkah
Maret membisikkanku kenangan indahnya gemercik sungai membasahi dahaga
Dia tahu aku merindukan petani menyapa ramah, bukan kuda besi yang mengeluarkan polusi suara
No comments:
Post a Comment